Wednesday, July 27, 2011

LAGU AMBULAN





Qonita alias si Eneng anakku sangat suka menyanyi, dan dia punya daya ingat yang luar biasa untuk anak seumuran dia dalam menghapal lirik lagu. Itu menurut aku sih, aku gak tau pasti daya ingat semacam itu normal untuk anak seumuran dia atau memang benar-benar luar biasa. Yang pasti dia bisa mengikuti lagu-lagu Indonesia terbaru yang aku sendiri bahkan gak tau kalo lagu itu ada. Lagu anak-anak yang diajarkan aku dan neneknya pun cepat dihapalnya.

Suatu malam, menjelang tidur, seperti biasa aku menyanyikan beberapa lagu sebagai pengantar tidur. Aku sempat menyanyikan lagu “Ambilkan bulan, Bu”. Lagu ini sepertinya masih baru buat si Eneng. Setelah aku menyanyikan lagu itu, aku menyanyikan beberapa lagu lain yang dia sudah hapal. Tetapi tiba-tiba dia merengek “Bunda, lagu ambulan”. Heh? Lagu apa itu ya? Aku bingung. Aku coba alihkan perhatiannya. Aku tawarkan lagu lain. “Balonku ya? Atau Bintang Kecil?”. Tanpa persetujuannya, aku langsung bernyanyi “Balonku”, dan dia ngambek “Aah, gak mau! Lagu ambulan!” Waduh, makin bingung deh. AKhirnya aku bilang “Bunda nggak tau Nak lagu itu. Emang yang kaya gimana sih?” Dia pun bernyanyi pelan dengan pelafalan yang belum terlalu jelas “Ambilkan bulan, Bu...”. Oalaaah, gubraks!

Ditulis 20 Agustus 2010

Tuesday, November 9, 2010

Cinta,
Badai itu belum sepenuhnya usai
Tapi aku percaya
Kita dapat bertahan dan melewatinya
Pegang erat tanganku
Dekap erat malaikat mungil kita
Apapun yang terjadi kita tetap bersama
Seusai badai ini
Pasti akan ada hangatnya mentari
Dan indahnya pelangi



Sydney, June 2010
When my eyes met yours
It was like a blast from the past
Was it a déjà vu?

I surrendered myself to you
With all the ups and downs
We went through our journey
To the uphill we climb
Hand in hand
Overcame the hindrances and obstacles

The higher we get, the stronger the wind blew
And once it took you away from me for a while
I searched for you
In solitary I was waiting
Believing that you would find your way back to me

I kept on waiting
Kept on hoping
Kept on believing
Till I saw your silhouette in a distance
Then I know that you never leave me…


Sydney, June 2010

Friday, November 5, 2010

Rasa, kusimpan kau di kotak kaca
Kutaruh di sudut kamar
Biarlah kupandang saja tapi tak kan kusentuh

5 November 2010

Tuesday, April 13, 2010

Terima kasih aa…

Untuk dukungan yang tak putus selama aku kuliah…

Untuk bantuannya mengerjakan tugas kuliah…

Untuk saran-sarannya…

Untuk buku yang aa tulis buat aku…

Untuk meliburkan diri dari kantor sehari setelah aku kembali ke Jakarta…

Untuk “mencuri waktu”  dari kantor dan mengajak aku dan Eneng ke Bandar Jakarta di ulang tahunku…

Untuk jam tangan “Swatch”nya…

Untuk menemani ke dokter jantung…

Untuk kesempatan menyetir mobil…

Untuk selalu percaya kalau aku bisa bahkan di saat aku tidak percaya pada diriku sendiri…

Untuk selalu mengingatkanku supaya berpikir positif…

Untuk tawa dan air mata yang kita bagi bersama…

Dan untuk hal-hal lain yang telah aa berikan dan lakukan selama kita menikah…
For you, it seems that actions indeed speak louder than words…

Kamu adalah kamu,
Pribadi unik yang tidak bisa disamakan dengan laki-laki lain…
Seorang laki-laki yang mencintai, menyayangi, dan memperhatikan keluarganya
dengan caranya sendiri…

I just want to say that I am proud to be your wife…

Sydney, 26 Maret 2010
00:17

(BUKAN) PRIA ROMANTIS

Suamiku selalu mengklaim dirinya bukan pria romantis. Sejak jaman pacaran, jarang sekali dia mengatakan kata-kata mesra, baik itu secara langsung atau lewat sms. Dia pun tak pernah mengirimi aku bunga  di hari istimewaku atau hari istimewa kami berdua, seperti yang mungkin dilakukan laki-laki lain terhadap pasangan mereka. Tapi ya sudahlah, aku juga tidak terlalu menyukai bunga, kecuali bunga bank…hehehe. Kadang ada juga keinginan mendapat perlakuan romantis sesekali, tapi kan aku tidak bisa memaksa suamiku melakukannya. Kalau dia merasa terpaksa ya percuma.

Aku cuma mau berbagi sedikit kisah(tak) romantis kami. Nanti andalah yang menilai sendiri bagaimana suamiku tercinta. Salah satu momen yang terindah yang pernah aku alami bersama dia adalah ketika kami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Sejujurnya, aku tidak berharap banyak ulang tahun pernikahan kami akan dirayakan secara istimewa. Karena suamiku pun jarang mengistimewakan acara ulang tahunku atau dirinya sendiri. Memberi kado pun kadang dia lupa:-D. Tapi syukurlah dia tidak pernah lupa mengucapkan selamat.

Tapi sejak beberapa hari sebelumnya dia sudah bertanya kepadaku mau dirayakan di mana. Tentu saja aku bingung. Aku tidak ada preferensi tempat. Bisa berdua saja dengan dia untuk merayakannya adalah hal yang luar biasa mengingat kesibukannya di kantor. Aku sendiri sudah mempersiapkan hadiah dan kartu untuk hari istimewa kami itu. Aku membelikannya jam tangan karena memang jam dia sudah rusak dan entah ke mana. Harganya mungkin terbilang agak mahal jika dilihat dari kondisi keuangan kami saat itu. Tapi aku pikir tak mengapa, aku ingin menyenangkan dirinya.

Di hari-H, di perjalanan menuju kantor dia mengajak aku untuk pergi ke suatu restoran pizza nanti sore setelah jam kantor. Dia bilang dia akan minta izin untuk pulang lebih awal. Hah? What a surprise! Buat aku itu sudah sesuatu yg luar biasa.

Sore harinya setelah jam kantor aku menyusul ke kantornya, dan dia sedang bersiap-siap pulang. Aku sempat mendengar dia berkata pada salah seorang teman kantornya, kalau cuma ini yang dia bisa berikan ke aku sebagai hadiah ulang tahun perkawinan. Aku merasa terharu mendengarnya.

Sesampainya kami di restoran yang dituju, kami mencari tempat duduk dan mulai memesan. Sementara menunggu pesanan datang, dia mengeluarkan selembar kertas, dan membacakan puisi yang ditulisnya untukku. Sungguh luar biasa. Aku nggak bisa menggambarkan perasaanku. Setelah itu kami pun berdoa dan mengucapkan harapan-harapan kami di hari istimewa itu. Tak disangka, matanya pun berkaca-kaca. Tuhan, aku nggak pernah melihat laki-laki ini menangis sebelumnya. 

Aku merasa sangat bahagia malam itu. Setelah itu dia mengeluarkan sebuah singing candle yang ternyata dibelinya beberapa hari yang lalu saat ke supermarket bersamaku. Kami meniup lilin itu bersama-sama. Kemudian dia mengeluarkan hadiahnya untukku, foto-foto anakku yang dicetaknya sendiri dan ditaruh di pigura. Dia bilang dia terinspirasi membuat ini karena beberapa hari sebelumnya aku sempat meminta foto anakku untuk kupajang di kantor. Subhanallah. 

Begitu besar perhatiannya. Aku jadi merasa hadiahku tidak ada nilainya dibanding apa yang dia berikan padaku. Terima kasih aa… semoga kita masih diberikan kesempatan merayakakan hari jadi pernikahan kita di tahun-tahun selanjutnya. Terima kasih Tuhan, untuk seorang suami yang “romantis” dan “perhatian” dengan caranya sendiri. 




Sydney, 26 Maret 2010

Selamat Ulang Tahun

Anakku sayang, 
Selamat Ulang Tahun ke-2, Nak
Semoga Allah Senantiasa melindungi dirimu,
Memberikanmu kesehatan dan kecerdasan
Serta menjadikanmu anak yang sholihah.
Bunda minta maaf tidak bisa mendampingimu di hari ulang tahunmu
Kelak jika kau besar nanti, semoga kau bisa mengerti
Kenapa Bunda tidak bisa ada di sana saat itu.
Kamu tahu Nak, ketika pagi ini Bunda terbangun,
 Bunda merasakan kerinduan yang luar biasa pada dirimu
Ingin memelukmu dan menciummu
Bunda tahu, kamu nggak akan lupa sama Bunda,
Karena kamu anak yang cerdas, anak yang luar biasa
Anugerah terindah buat Ayah dan Bunda
Doa Bunda selalu menyertaimu, Nak
Dimanapun Bunda berada
Bunda tak sabar menunggu waktunya tiba
Untuk bisa bersama kamu dan Ayah lagi
Sekali lagi Selamat Ulang Tahun Malaikat Kecilku
Luv U…


Bunda
Sydney, 25 Maret 2010
11:32 PM

Friday, August 28, 2009

THIS AIN’T A LOVE STORY:
A Recollection of a Decade of Our Journey



I don't know but I believe.
That some things are meant to be.
And that you'll make a better me.
Everyday I Love You....

(Ronan Keating)

Once upon a Time...

One day in 1999...
Have you ever imagined what your future husband or wife looks like? This question suddenly crossed my mind when I was in my third semester as a university student. I did not know how exactly this question came up. As a woman I did sometimes wonder whom I would get married with in the future? Who would be my future husband? Is he someone that I have known before for a long time or someone that I have just met?

One afternoon, while listening to my lecturer in the class, the question suddenly crossed my mind. Unintentionally, I asked that question to a man sitting next to me (The question was in bahasa Indonesia, the translation is in the brackets:-P)

“Eh, pernah gak membayangkan seperti apa jodoh kita nantinya?”
(Have your ever imagined what your future wife looks like?)

All of a sudden, the man gazed at me and gently answered,

“Yah, seperti kamu mungkin.”
(Well, she might be you)

Hah? What? What did he mean? Why did he say that? But I couldn’t say anything. I became speechless. I felt that my cheeks were blushing, but I acted as if I didn’t care. Was he nut or something?


A Few Weeks Later...

Hehe... the “nutty” guy became my boyfriend. Hah? How come? I didn’t know. It just went with the flow. Everyone seemed to be surprised to know it, since he and I seemingly had two different worlds. However, I couldn’t lie to my heart that I did have a little crush on him though I never knew why. A “crush” that gradually grew to something that we may call love...


If Love is Blind...

There is a saying that when we love someone, we shouldn’t love him one hundred percents, since it would be hurt if the person we love doesn’t love us in return. The saying may be right. The relationship didn’t go well. Maybe in every relationship there will always be ups and downs. However, ours seemed very problematic. I didn’t know what’s wrong. It was like that we couldn’t fulfill each other’s expectations. Finally, we --well, it was he actually-- decided to end the relationship. Maybe that was the best for both of us. But, why couldn’t I let the feeling go...? Was it because I loved him too much?
However, few weeks later, when I finally succeeded overcome the sadness, the man came and asked for a second chance. Wishing that this time would be better than the previous one, we restarted our relationship.

Years of Joy and Sorrow

This time we could endure our relationship for quite a long time. We did have much fun through these years. Years passed. We both then graduated. It had been difficult to maintain the relationship after we graduated. Our work life often hindered us to meet regularly. I tried to understand that love is not a matter of being present WITH someone, but it is a matter of being present TO someone, though I really missed him and needed his presence by my side. This matter later on led to conflicts between us. The relationship didn’t seem enjoyable anymore. However, I still wanted to hold on. Somehow, I believed that we could get through this. Somehow, deep inside I believed that we were meant to be together. Unfortunately, he didn’t think the same way as I did. He thought that we would never make it. And...it ended (again...). After he left, I struggled to get my feet back on the ground. It was extremely hard to forget the memories of ours, since we had been together for almost five years at that time.


Time of Solitary


Time will heal the wound. Maybe that’s a right saying for me. After some time, I finally could overcome the sadness and hurt, though sometimes the thought of him still crossed my mind. I just kept saying to myself that the right man for me would come at the right time. Moreover, without him I tried to be more independent and more open to other people. During that time I also made friends with some guys who later on became very close to me. Would one of them be my next boyfriend?


I Turned to You...

I did get close to few guys at that time. But I didn’t feel like for a more serious relationship. I didn’t know why. Just didn’t feel the ’click’ between me and them. And to be honest, deep down inside, I still had the feeling that one day “he” and I would reunite. I had tried once to have a quite “serious” relation with a man. He was very nice, and I almost thought that he might be the one, though he never wanted to make a commitment. However, one day the man from “the past” called me. I was very surprised. Then he asked me to have lunch together. I accepted his invitation just as a friend. I thought it might be fun to meet him and have a chat.

The rendezvous ran smoothly. We had great time together. When we finished our lunch and went out the restaurant, he suddenly held my hand. Gosh, I could hear my heart beating hard. Damn, why has the feeling never been gone? Somehow, I thought that he felt the same way too. But, we didn’t speak anything about it.

Though there seemed to be a possibility for us to reunite, I didn’t want to think about it. I was just afraid that I would be disappointed if I expected too much on this. Unfortunately, my relationship with the other man also didn’t run smoothly. His hesitation to commit himself more seriously in the relationship started to bother me. And I even began to feel annoyed by the things that I didn’t like from him. Things that at first seemed okay, but now I just couldn’t stand them any longer. Finally, I decided to stay away from him. I thought I needed some time for myself. During this period, the man from the past showed up, begged for forgiveness and asked for another chance. The presence of another man by my side somehow made him realize that he still had “that feeling” for me. I really wanted to say ‘yes’ right away. However, I still doubted his seriousness. I just couldn’t stand it if someday the relationship had to end again.

He kept on trying to ensure me that this time he was serious, that he wished I would be the last one. Finally, I decided to take the risk. After all, we will never know if we don’t try right? This time everything ran more smoothly than before though problems sometimes occurred. I think each of us has gone through a kind of transformation process while we were separated. Then, when we met again, we have transformed to be someone better. At least this time, we tried to be more understanding to each other.


From This Moment on...

7 July 2007, at 7.00 a.m., we had our holy matrimonial. From then on, we were husband and wife.

On March 25, 2008, our beloved daughter, Qonita Fadantya Djatnika was born.

It’s been two years now.

Hope our love grow stronger everyday
Hope that we could be better persons each day
Never stop being understanding each other
Never stop caring for one another
May Allah bless our wedding...


HAPPY WEDDING ANNIVERSARY


Sydney, 7 July 2009

Friday, August 21, 2009

Catatan Kecil Jelang Ramadhan 1430 H

Marhaban ya Ramadhan...

Sehari jelang 1 Ramadhan 1430 H. Pertama kali dalam hidup harus menjalani puasa sendiri (ada temen satu rumah sih). Tanpa keluarga tercinta, tanpa suara adzan, suara orang mengaji dari mushola di belakang rumah, suara “band” keliling yang biasa membangunkan orang-orang untuk makan sahur...

Mungkin Ramadhan kali ini akan menjadi Ramadhan yang berbeda buat gw. Ya pasti emang beda karena kali ini harus jauh dari keluarga, berada di negeri yang bukan mayoritas muslim (walaupun komunitas muslimnya juga tidak sedikit). Beda yang gw maksud di sini adalah, baru kali ini, to be honest, gw merasakan kerinduan yang luar biasa untuk beribadah. Lha? Emang selama ini nggak? Well, kalau mau jujur, selama ini sih senang kalo udah masuk bulan Ramadhan. Tapi nggak ada gairah yang luar biasa. Mungkin selama ini Ramadhan cuma jadi semacam tradisi. Sesuatu yang datang setahun sekali, kita jalani, terus berlalu begitu aja. Semua dijalankan, puasa, tarawih, dan sebagainya sebagai suatu hal yang memang “biasa” dilakukan di bulan itu. Diri kita seperti punya “Ramadhan profile setting”. Profile itu kita aktifkan setiap memasuki bulan Ramadhan, tapi kemudian setelah Ramadhan berlalu kita kembali ke profile “general” kita. Kenapa ya sulit sekali menjadikannya sebagai “default profile” kita?

Semoga Ramadhan kali ini memang benar-benar berbeda. Semoga kegairahan yang gw rasakan ini bukan untuk saat ini saja tapi untuk seterusnya. Semoga perjalanan gw di sini bisa jadi a transformation journey...to be a better ME^_^

HAPPY RAMADHAN...

Thursday, November 20, 2008

DUNIA LAIN

Ini bukan nama acara berbau alam gaib yang pernah tayang di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Ini tentang dunia laki-laki. Beberapa waktu lalu gue sempat berbincang dengan seorang teman cowok. Dari percakapan itu gue tau kalo dia kadang chatting atau saling berkirim email dengan seorang cewek yang dikenalnya dari suatu situs pertemanan di internet. Waktu denger ceritanya, gue cuma tanya “Buat apa?”, mengingat dia sudah punya istri dan seorang anak. Jawabnya singkat, “Iseng” katanya sambil nyengir kuda.

Gue gak habis pikir. Mungkin sulit ya buat gue untuk mengerti jalan pikiran laki-laki. Kalo buat gue, itu kegiatan yang buang-buang waktu aja (atau guenya aja males ya?hehehe). Abis kalo bagi gue pribadi, buat hal-hal yang lebih penting aja gue merasa waktu gue kurang, apalagi cuma hal-hal kaya gitu. Gue pernah sih melakukan hal serupa, tapi lama-lama gue bosen aja, apalagi cowok yang jadi teman dunia maya gue itu sepertinya berharap lebih dari gue. Males banget jadinya.

Balik lagi ke temen gue itu. Dia menunjukkan salah satu isi emailnya ke cewek kenalannya itu. Isinya basi banget. Kaya’ cowok lagi pedekate gitu ma cewek yang dia suka. Yang lebih nyebelin dia gak ngaku kalo dia udah nikah (ya iyalah!). Gue bertanya lagi kok bisa-bisanya dia kaya’ gitu, kan udah punya istri. Dia jawab dengan entengnya bahwa dia kan gak selingkuh, bahwa itu cuma iseng aja. Dia gak berniat serius sama cewek itu, lagipula cewek itu tinggal di pulau yang berbeda, dengan jarak yang terbilang cukup jauh, jadi kecil kemungkinan mereka bisa bertemu. Kalo ceweknya menanggapi serius, ya itu salah dia katanya.

Gue cuma geleng-geleng kepala. Laki-laki, tidakkah kau sadari bahwa aktivitas yang kau anggap iseng itu bisa menyakiti seseorang. Mungkin istri teman gue itu tidak tahu, dan kalaupun tahu mungkin tidak peduli karena ia tahu suaminya cuma iseng. Tapi apakah teman gue itu tidak memikirkan perasaan wanita temannya itu. Kalau wanita itu menganggap pertemanan mereka serius dan berharap lebih, apa yang terjadi. Kebohongannya akan menyakiti hati seorang wanita.

Tapi teman gue itu tampak menikmati “dunia lainnya”, yang menurutnya sah saja untuk dilakukan. Setelah percakapan dengannya itu, gue jadi berpikir, apakah suami gue juga melakukan hal yang sama? Apakah dia juga memiliki dunia lain yang gue sama sekali tidak tahu? Dunia di mana gue tidak menjadi bagian di dalamnya?

Mungkin setiap orang memiliki dunia lainnya. Namun terkadang gue berpikir bahwa suami istri harusnya terbuka satu sama lain. Jadi seharusnya kalau suami gue memang memiliki dunia lain itu, kenapa dia nggak cerita? Tapi mungkin itu adalah bagian dari dirinya yang gue tidak perlu tahu. Mungkin dia ingin menikmatinya sendiri. Mungkin ada kalanya dia perlu dunia di mana dia bisa menjadi seseorang yang “beda”. Yah, selama suami gue tercinta tidak berubah, selama dia tetap menyayangi gue dan anak kami, selama teman(-teman)nya di dunia lain tidak ia anggap lebih penting dari istrinya, selama ia tidak menjadikan mereka teman curhat masalah pribadinya, selama dunia lain itu cuma sekedar pengusir rasa bosan dengan dunia kerjanya, mungkin lebih baik gue biarkan saja, mungkin lebih baik gue tidak perlu tahu. Siapa tahu dengan dunia lainnya, dia malah menjadi jauh lebih penuh kasih sayang dan cinta dari biasanya.

Baby's Cough


Judul di atas sebenarnya adalah merk obat batuk dan flu untuk bayi dan anak-anak, tapi orang lebih sering menyebutnya Baby Cough saja. Obat ini terbilang murah namun menurut rekomendasi beberapa teman gue cukup ampuh mengatasi gejala batuk dan flu pada anak-anak. Tapi tulisan ini bukan mau mempromosikan obat tersebut. Gue sekedar mau berbagi pengalaman waktu menjelajah beberapa apotik untuk mencari obat tersebut.

Sore itu gue sedang berada di suatu pusat perbelanjaan untuk berbelanja tentunya. Setelah mendapatkan apa yang gue cari, gue pun beranjak pulang. Dalam perjalanan menuju pintu keluar gue mampir ke apotek “G” yang biasa ada di mal-mal dan gue pikir cukup lengkap lah. Karena tidak ada SPG, gue menuju kasir untuk bertanya. Di sana ada dua orang pegawai apotek tersebut.

Gue : Mbak, ada Baby Cough? (gue ucapkan /beibi kaf/, berusaha menggunakan pengucapan bahasa Inggris yang baik dan benar)

Pegawai 1: Apa? (dengan kening berkerut dan muka jutek)

Gue : hmm...(bingung, gimana cara ngucapinnya biar orang-orang pada ‘dong’)
beibi kaf mbak, obat batuk buat bayi.

Pegawai 2: Ooh itu.. nggak ada Bu di sini (dengan muka sedikiiiit lebih ramah dari rekannya)



Selanjutnya dalam perjalanan pulang gue berhenti di suatu apotik yang mengaku komplit dan buka 24 jam penuh. Saat gue mendekat ke counter, seorang gadis karyawan apotik tersebut menyambut gue.

Karyawan apotik: Cari apa Ibu? (ramah neh)

Gue : Ada beibi kaf Mbak?

Karyawan apotik: Apa? (tampang bingung), bebi kuk (ini cara dia ngucapin) kali (dengan wajah ‘sotoy’)

Gue : Eeeng, iya itu (gue jadi ragu, yang bener siapa ya?)

Karyawan apotik: Tapi obatnya lagi kosong Bu.

Yee kirain ada. Ngakunya lengkap.

Gue kembali melanjutkan perjalanan pulang. Di apotik kecil dekat rumah, gue kembali berhenti dengan penuh harapan obat itu bisa dibeli di situ. Gue disambut oleh seorang mas-mas penjaga counter.

Gue : Ada beibi kaf Mas (dengan senyum)

Mas-mas: Oh, bebi kuk (dengan intonasi dan gaya seolah gue salah ngucapin)

Gue : Iya (senyum mulai pudar)

Alhamdulillah ternyata apotik itu menjual obat tersebut. Kalo gak gue gak tau deh harus cari ke mana lagi dan harus berapa kali menghadapi pandangan melecehkan para pegawai apotik seolah-olah gue gak bisa ngucapin nama obat itu dengan benar.
Maksud hati jadi lulusan sastra Inggris yang baik, ternyata eh ternyata... Tapi setidaknya ada hikmah yang bisa dipetik dari kejadian ini: next time jangan cari beibi kaf, carilah bebi kuk

Wednesday, September 10, 2008

KEPADA IMAMKU

KEPADA IMAMKU
Duhai imamku,
Tidakkah kau dengar panggilan rinduku
untuk bergandeng tangan
menyusuri jalan-Nya?

Tidakkah kau baca hasratku
untuk bersama meraih ridha-Nya?

Jelang Ramadhan 1429 H

JEALOUSY PART 2

Jealousy, you tripped me up
Jealousy, you brought me down
You bring me sorrow
You cause me pain
Jealousy, when will you let go

(Queen)

Bener-bener deh. Cemburu cuma bikin capek. Masih melanjutkan cerita sebelumnya. Gara-gara SMS “mesra” akhirnya gue jadi parno. Bawaannya penasaran melulu. Pengen tahu siapa lagi yang kira-kira bakal dikirimi SMS senada. Akhirnya gue curi-curi intip hape suami gue. Tadinya gak ketahuan, tapi ketika akhirnya ada hasil intipan yang bikin penasaran, gue bingung gimana mengkonfirmasinya. Akhirnya, dengan sangat berat hati, gue mengakui perbuatan gue (pesan buat para istri: jangan meniru gue ya, maksudnya pake cara lain yang lebih cerdas dari cara gue..hehehe). Selain jawaban yang memuaskan, gue juga dapat hal lain: suami gue marah dan kecewa karena gue dianggap telah melanggar daerah pribadinya. Dia merasa walaupun kami suami istri tapi bukan berarti gue bisa seenaknya kayak gitu. Dia juga merasa nggak dipercaya sama gue karena ulah gue itu.

Sebenarnya gue pengen membela diri. Gue melakukan itu semua bukan karena gue nggak percaya sama suami gue. Bukan karena gue curiga dia bakal macem-macem di luar sana. Gue percaya sama suami gue. Gue percaya dia setia. Gue percaya dia sayang sama gue. Tapi mungkin ego gue sebagai seorang wanita, seorang istri, yang kadang merasa nggak “rela” suaminya terlalu baik terhadap wanita lain. Tapi kan tentu aja gue kan nggak mungkin minta suami gue untuk nggak bersikap baik ke orang lain. Jadi serba salah.

Akhirnya, setelah merenung, gue mencoba berbesar hati. Gue mencoba memahami sifat suami gue itu walaupun deep inside gue masih merasakan ada sedikit ketidakrelaan. Mengalah kan bukan berarti kalah. Lagipula kalau dengan cara itu segala sesuatunya bisa jadi lebih baik, kenapa nggak dilakukan? Semoga ini yang dibilang mengalah untuk menang........

Waiting for Godot...

Mungkin bener ya kalo orang bilang menunggu itu adalah pekerjaan yang paling nyebelin. Apa lagi kalo yang ditunggu gak jelas kapan datangnya. Sayangnya kali ini yang ditunggu adalah sebundel kertas yang dianggap maha penting sehingga setiap orang tidak diperkenankan menunggu hal itu di luar gedung instansi pemerintah yang katanya mempunyai fungsi memberikan dukungan teknis dan substantif kepada pemimpin negara ini.

Gue kadang masih belum ngerti, kenapa untuk hal sepenting ini tidak bisa diselesaikan jauh hari sebelum hari-H. Selalu saja sehari sebelumnya, atau bahkan beberapa jam sebelum acara dimulai. Apakah karena faktor kerahasiaan yang sangat dijaga? Whatever lah…

Rasa lelah dan bosan sudah mulai muncul. Menunggu apalagi tanpa mengerjakan apapun akan terasa sangat menyiksa. Untungnya ada teknologi yang bernama internet disertai dengan yahoo messenger :P. Lumayanlah. Setidaknya bisa mengisi waktu luang ;) Semoga segera datang sebundel kertas dengan tanda tangan orang nomor satu di negeri ini yang menandakan berakhirnya masa penantian ini.

Mita’s cubicle, 21 August 2008, 17.38

JEALOUSY PART 1

Gue yakin semua orang normal pernah merasakan perasaan yang berjudul cemburu. Dalam hubungan antar lawan jenis perasaan ini menurut gue disebabkan rasa memiliki sehingga kadang gak rela aja kalo pasangan kita membagi perhatiannya dengan orang lain. Tapi jealous alias cemburu gak cuma muncul di antara dua orang yang punya hubungan khusus (i.e. pacaran/menikah) aja, tapi juga dalam hubungan lain.

Gue pernah cemburu waktu salah satu temen akrab gue lebih deket sama temen akrab gue yang lain. Ponakan gue sempet cemburu ma anak gue waktu baru lahir karena dia gak lagi jadi pusat perhatian. Temen kantor gue pernah ada yang cemburu sama temen gue yang lain karena dia lebih diperhatiin bos (ini siy cemburu a.k.a. sirik kali yee)

Mungkin yang agak memalukan adalah waktu gue sempet “cemburu” ma anak gue. Bukan salah anak gue siy, suami gue aja yang kadang gak paham kalo istrinya juga butuh perhatian..hehehe. Apalagi abis melahirkan, waktu itu secara fisik gue sakit dan lemah (hiks..), secara psikologis gue merasa penampilan gue “gak banget”. Emang suami gue gak nuntut gue kudu berpenampilan kaya’ putri Indonesia (lagian gak mungkin kalee…), gue sendiri juga gak pengen macem-macem, cuma pengen penampilan gue enak dilihat aja, paling gak di mata gue sendiri. Somehow it helps to improve my self confidence. Jadinya saat itu gue butuh banget bantuan suami gue plus perhatiannya. Tapi namanya orang lagi seneng-senengnya punya anak, perhatian sedikit teralihkan dong ke si kecil. Alasan dia, anak kami lagi butuh banyak perhatian, jadi wajar dong kalo dia lebih perhatian ke anak. Lha, gue kan minta perhatian dia tanpa harus mengurangi perhatian dia ke anak. Bagi gue, kalo sebelum punya anak rasa sayang dan perhatian gue ke suami 100%, setelah anak gue lahir, gue gak ngambil dari yang 100 % itu, tapi gue buat yang baru, jadi gue berusaha perhatian gue tetep sama, walaupun jujur kadang susah juga baginya..hehehe. Nah, itu juga yang gue mau dari dia. Kasihan banget para istri kalo setelah punya anak perhatian suami berkurang. Gimana kalo anaknya selusin, istrinya dah gak kebagian lagi dong perhatian dari suami.

Terus, yang sering jadi sumber cemburu bagi seorang wanita adalah wanita (-wanita) lain. Sebenernya sejak gue kenal suami gue, dia emang punya banyak temen akrab cewek (ya iyalah, wong kami kuliah di fakultas sastra yang mayoritas isinya kaum hawa). Dulu-dulu gue mencoba cuek, mencoba meyakinkan diri kalo dia emang cuma temenan aja sama mereka, gak ada rasa apa-apa, walaupun kadang dalam hati kadang sebel juga ma kelakuannya. Dia juga meyakinkan gue kalo dia tipe setia walaupun dikelilingi banyak wanita.

Ketika dah nikah, gue pikir gue akan merasa lebih tenang karena gue dan dia sekarang sudah punya ikatan yang lebih kuat dari sekedar pacaran, ikatan yang diakui oleh agama dan hukum. Selain itu, asumsi gue, dia dah milih gue di antara cewek-cewek lain, berarti gue punya kelebihan yang gak dia temukan di cewek-cewek lain, jadi gue gak perlu kuatir ma cewek-cewek lain.

Tapi, nyatanya…sejak hamil gue jadi lebih gampang cemburu. Gue biasanya membela diri bahwa itu bawaan bayi atau pengaruh hormon. Emang sih di kantor barunya dia punya banyak temen cewek. Beberapa gue kenal, tapi pastinya kan ada juga yang gue gak tau. Tapi gak mungkin kan gue kenalan ma semua cewek di sana. Tadinya gue gak ada perasaan apa-apa, sampe suatu ketika gue baca sms suami gue buat salah seorang rekan kerjanya waktu suami gue mau tugas keluar kota. Gue menilai kata-kata dalam sms itu terlalu berlebihan buat seorang teman, apalagi sms itu dari seorang cowok ke cewek. Saat membaca sms itu gue merasa sedih aja, bukan karena curiga suami gue ada “main” dengan cewek lain. Ada semcam rasa “iri” karena suami gue kirm sms yang dalam pandangan gue berkategori “mesra” ke cewek lain, sementara sejak nikah dia udah jarang banget kirim sms kaya gitu ke gue.

Pada akhirnya dia bilang kalo gak ada maksud apa-apa, sms itu cuma “iseng” menurut dia. Dasar cowok, apa mereka gak berpikir, gimana perasaan seorang istri kalo tau suaminya kirim sms semacam itu ke cewek lain walaupun sebenarnya mereka gak ada apa-apa. Cewek normal pasti merasa gak suka. Lagipula walaupun gak ada apa-apa, menurut gue kalo seseorang dah menikah, seharusnya sedikit membatasi sikap dalam berhubungan dengan lawan jenis.

Gue yakin mungkin masih ad alagi cewek-cewek, baik yang gue kenal maupun tidak, yang diberi kata-kata manis wal mesra ma suami gue yang gue gak tau atau suami gue gak (belum) cerita. Kadang gw berusaha ngerti bahwa itu mungkin udah bawaan suami gue tersayang sejak lahir, tapi kan gue juga punya perasaan. Gue gak bisa bohong kalo gue gak suka suami guekayak gitu. Tolong dicatat ya, bukannya suami gue gak boleh akrab ma cewek, cuma menurut gue sekarang seharusnya dia punya batasan sejauh mana keakraban tersebut bisa dibina (taelaa bahasanya..) karena dia udah berkeluarga. Walaupun nggak ada maksud apa-apa setidaknya jagalah perasaan istri. Lagipula kalau terlalu berlebihan gue kuatir akan menimbulkan pikiran negatif dari orang lain yang lihat atau tahu keakraban mereka, termasuk cewek yang bersangkutan. Terus gimana kalo si cewek salah sangka dan menanggapi lain? Mungkin gue berpikir terlalu jauh. Tapi ini cuma tindakan preventif aja. Kadang kita kan nggak bisa mengontrol hati ini. Seperti yang pernah dibilang suami gue dulu waktu masih pacaran bahwa kita sama-sama saling kasih kebebasan tetap saling menjaga perasaan aja (gak tau ya dia masih inget atau nggak pernah ngomong kaya’ gitu). Gue mengartikan kata-kata ‘menjaga perasaan’ tersebut menjadi dua hal. Pertama, berusaha tidak menyakiti perasaan pasangan kita dalam hubungan kita dengan lawan jenis, kedua menjaga jangan sampai kita terbawa perasaan dalam kedekatan kita dengan lawan jenis.

Suami gue pasti menilai gue berlebihan dengan semua ini. Tapi gak tau ya… yang pasti, gue cuma seorang istri dan ibu yang ingin berbuat yang terbaik untuk keluarganya, yang berusaha menjaga rumah tangganya sebaik-baiknya…

ditulis pada 21 May 2008

Cinta
Salahkah jika
Aku meminta
Tatapan kagum, pujian, atau kalimat-kalimat mesra
Agar tak kau curahkan
Kepada perempuan lain
Meski hanya sebatas teman?
Tentu saja
Jika kau suka
Kau boleh membaginya
Kepada buah hati kita

(Asma Nadia*)

*dengan sedikit perubahan

Thursday, August 28, 2008

SATU SAJAK CINTA UNTUK ISTERIKU

Isteriku, ingatkah dirimu waktu kita kuliah dulu
Waktu aku sering meninggalkanmu pulang sendiri
Hanya untuk berkumpul bersama teman-temanku
Tapi kau tetap setia mendampingi

Isteriku, dulu aku sering membuatmu kecewa
Dengan sikap angkuh, egosentris dan arogan
Ku tahu dalam hatimu ada setangkup duka
Tapi kau tetap mau untuk bertahan

Isteriku, sering kali kita berbeda pandangan
Yang acap kali berujung pada pertengkaran
Dan tidak jarang pula diwarnai perpisahan
Tapi kamu tetap memberiku sebuah harapan

Isteriku, waktu kita mulai bergelut di dunia kerja
Keadaan itu pun masih sama saja
Aku tak bisa memberimu sejumlah waktu yang wajar
Tapi herannya kamu tetap sabar

Isteriku, pada masa-masa sulit yang kualami
Bahkan sulit bagiku mencari waktu untuk berbagi
Pun begitu dengan semua masalah yang kamu alami
Kamu terima waktu aku tak bisa mendampingi

Isteriku, saat ini pun aku belum bisa buatmu bahagia
Ada saja masalah yang menghadang kita
Yang besar, yang kecil maupun yang tak kasat mata
Tapi aku percaya kita mampu melaluinya

Masalah dimana kita akan tinggal
Yang sering kali menjadi soal
Masalah kedekatanku dengan teman wanita
Yang pasti membuat kamu cemburu walau tak buta

Masalah pekerjaanku yang terlalu menyita waktu
Kapan bisa libur pun kadang tak tentu
Masalah keinginanmu untuk sekolah lagi
Terlebih inginnya di luar negeri

Belum lagi masalah komunikasi
Kita dan orang tua ataupun antar kita sendiri
Pasti akan banyak lagi masalah nanti
Yang semua mesti kita hadapi

Isteriku, jangan pernah kamu kecewa
Hanya karena kita berbeda dengan mereka
Sebagaimana pasangan pada umumnya
Anggap saja kita ini pasangan istimewa

Kini setahun sudah kita mengucap janji
Berikrar setia kalau bisa sampai mati
Ada berjuta impian indah dalam benakmu pasti
Yang sampai kini belum bisa terealisasi

Tapi satu hal yang pasti
Janji suci itu aku terus bawa dalam hati
Jangan pernah menyerah pada kesulitan
Itu adalah sarana mewujudkan impian

Layaknya musik yang punya banyak melodi
Hubungan kita tak jauh seperti musik rock and roll
Banyak hingar bingar tapi menciptakan harmoni

YES. WE ROCK SO FAR, BUT PLEASE LET IT ROLL

HAPPY WEDDING ANNIVERSARY
(7 JULI 2007 – 7 JULI 2008)

Ketahuilah Oleh Mu...

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia...
Allah SWT tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
Allah SWT sudah menghitung airmatamu.

Jika kau fikir bahawa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu terasa
berlalu begitu saja...
Allah SWT sedang menunggu bersama denganmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelefon...
Allah SWT selalu berada disampingmu.

Ketika kau fikir bahawa kau sudah mencuba segalanya dan tidak tahu
hendak berbuat apa lagi...
Allah SWT punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Allah SWT dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Allah SWT sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur...
Allah SWT telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Allah SWT telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Allah SWT sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap...
Allah SWT Maha Mengetahui.......

Dan..jika tiba-tiba kamu merasa jiwamu seolah-olah kosong...
Capailah Al-Quran...zikirlah dengan nama Tuhanmu...
niscaya hati-hati yang gusar akan menjadi tenang.