Friday, November 5, 2010

Rasa, kusimpan kau di kotak kaca
Kutaruh di sudut kamar
Biarlah kupandang saja tapi tak kan kusentuh

5 November 2010

Tuesday, April 13, 2010

Terima kasih aa…

Untuk dukungan yang tak putus selama aku kuliah…

Untuk bantuannya mengerjakan tugas kuliah…

Untuk saran-sarannya…

Untuk buku yang aa tulis buat aku…

Untuk meliburkan diri dari kantor sehari setelah aku kembali ke Jakarta…

Untuk “mencuri waktu”  dari kantor dan mengajak aku dan Eneng ke Bandar Jakarta di ulang tahunku…

Untuk jam tangan “Swatch”nya…

Untuk menemani ke dokter jantung…

Untuk kesempatan menyetir mobil…

Untuk selalu percaya kalau aku bisa bahkan di saat aku tidak percaya pada diriku sendiri…

Untuk selalu mengingatkanku supaya berpikir positif…

Untuk tawa dan air mata yang kita bagi bersama…

Dan untuk hal-hal lain yang telah aa berikan dan lakukan selama kita menikah…
For you, it seems that actions indeed speak louder than words…

Kamu adalah kamu,
Pribadi unik yang tidak bisa disamakan dengan laki-laki lain…
Seorang laki-laki yang mencintai, menyayangi, dan memperhatikan keluarganya
dengan caranya sendiri…

I just want to say that I am proud to be your wife…

Sydney, 26 Maret 2010
00:17

(BUKAN) PRIA ROMANTIS

Suamiku selalu mengklaim dirinya bukan pria romantis. Sejak jaman pacaran, jarang sekali dia mengatakan kata-kata mesra, baik itu secara langsung atau lewat sms. Dia pun tak pernah mengirimi aku bunga  di hari istimewaku atau hari istimewa kami berdua, seperti yang mungkin dilakukan laki-laki lain terhadap pasangan mereka. Tapi ya sudahlah, aku juga tidak terlalu menyukai bunga, kecuali bunga bank…hehehe. Kadang ada juga keinginan mendapat perlakuan romantis sesekali, tapi kan aku tidak bisa memaksa suamiku melakukannya. Kalau dia merasa terpaksa ya percuma.

Aku cuma mau berbagi sedikit kisah(tak) romantis kami. Nanti andalah yang menilai sendiri bagaimana suamiku tercinta. Salah satu momen yang terindah yang pernah aku alami bersama dia adalah ketika kami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Sejujurnya, aku tidak berharap banyak ulang tahun pernikahan kami akan dirayakan secara istimewa. Karena suamiku pun jarang mengistimewakan acara ulang tahunku atau dirinya sendiri. Memberi kado pun kadang dia lupa:-D. Tapi syukurlah dia tidak pernah lupa mengucapkan selamat.

Tapi sejak beberapa hari sebelumnya dia sudah bertanya kepadaku mau dirayakan di mana. Tentu saja aku bingung. Aku tidak ada preferensi tempat. Bisa berdua saja dengan dia untuk merayakannya adalah hal yang luar biasa mengingat kesibukannya di kantor. Aku sendiri sudah mempersiapkan hadiah dan kartu untuk hari istimewa kami itu. Aku membelikannya jam tangan karena memang jam dia sudah rusak dan entah ke mana. Harganya mungkin terbilang agak mahal jika dilihat dari kondisi keuangan kami saat itu. Tapi aku pikir tak mengapa, aku ingin menyenangkan dirinya.

Di hari-H, di perjalanan menuju kantor dia mengajak aku untuk pergi ke suatu restoran pizza nanti sore setelah jam kantor. Dia bilang dia akan minta izin untuk pulang lebih awal. Hah? What a surprise! Buat aku itu sudah sesuatu yg luar biasa.

Sore harinya setelah jam kantor aku menyusul ke kantornya, dan dia sedang bersiap-siap pulang. Aku sempat mendengar dia berkata pada salah seorang teman kantornya, kalau cuma ini yang dia bisa berikan ke aku sebagai hadiah ulang tahun perkawinan. Aku merasa terharu mendengarnya.

Sesampainya kami di restoran yang dituju, kami mencari tempat duduk dan mulai memesan. Sementara menunggu pesanan datang, dia mengeluarkan selembar kertas, dan membacakan puisi yang ditulisnya untukku. Sungguh luar biasa. Aku nggak bisa menggambarkan perasaanku. Setelah itu kami pun berdoa dan mengucapkan harapan-harapan kami di hari istimewa itu. Tak disangka, matanya pun berkaca-kaca. Tuhan, aku nggak pernah melihat laki-laki ini menangis sebelumnya. 

Aku merasa sangat bahagia malam itu. Setelah itu dia mengeluarkan sebuah singing candle yang ternyata dibelinya beberapa hari yang lalu saat ke supermarket bersamaku. Kami meniup lilin itu bersama-sama. Kemudian dia mengeluarkan hadiahnya untukku, foto-foto anakku yang dicetaknya sendiri dan ditaruh di pigura. Dia bilang dia terinspirasi membuat ini karena beberapa hari sebelumnya aku sempat meminta foto anakku untuk kupajang di kantor. Subhanallah. 

Begitu besar perhatiannya. Aku jadi merasa hadiahku tidak ada nilainya dibanding apa yang dia berikan padaku. Terima kasih aa… semoga kita masih diberikan kesempatan merayakakan hari jadi pernikahan kita di tahun-tahun selanjutnya. Terima kasih Tuhan, untuk seorang suami yang “romantis” dan “perhatian” dengan caranya sendiri. 




Sydney, 26 Maret 2010

Selamat Ulang Tahun

Anakku sayang, 
Selamat Ulang Tahun ke-2, Nak
Semoga Allah Senantiasa melindungi dirimu,
Memberikanmu kesehatan dan kecerdasan
Serta menjadikanmu anak yang sholihah.
Bunda minta maaf tidak bisa mendampingimu di hari ulang tahunmu
Kelak jika kau besar nanti, semoga kau bisa mengerti
Kenapa Bunda tidak bisa ada di sana saat itu.
Kamu tahu Nak, ketika pagi ini Bunda terbangun,
 Bunda merasakan kerinduan yang luar biasa pada dirimu
Ingin memelukmu dan menciummu
Bunda tahu, kamu nggak akan lupa sama Bunda,
Karena kamu anak yang cerdas, anak yang luar biasa
Anugerah terindah buat Ayah dan Bunda
Doa Bunda selalu menyertaimu, Nak
Dimanapun Bunda berada
Bunda tak sabar menunggu waktunya tiba
Untuk bisa bersama kamu dan Ayah lagi
Sekali lagi Selamat Ulang Tahun Malaikat Kecilku
Luv U…


Bunda
Sydney, 25 Maret 2010
11:32 PM

Friday, August 28, 2009

THIS AIN’T A LOVE STORY:
A Recollection of a Decade of Our Journey



I don't know but I believe.
That some things are meant to be.
And that you'll make a better me.
Everyday I Love You....

(Ronan Keating)

Once upon a Time...

One day in 1999...
Have you ever imagined what your future husband or wife looks like? This question suddenly crossed my mind when I was in my third semester as a university student. I did not know how exactly this question came up. As a woman I did sometimes wonder whom I would get married with in the future? Who would be my future husband? Is he someone that I have known before for a long time or someone that I have just met?

One afternoon, while listening to my lecturer in the class, the question suddenly crossed my mind. Unintentionally, I asked that question to a man sitting next to me (The question was in bahasa Indonesia, the translation is in the brackets:-P)

“Eh, pernah gak membayangkan seperti apa jodoh kita nantinya?”
(Have your ever imagined what your future wife looks like?)

All of a sudden, the man gazed at me and gently answered,

“Yah, seperti kamu mungkin.”
(Well, she might be you)

Hah? What? What did he mean? Why did he say that? But I couldn’t say anything. I became speechless. I felt that my cheeks were blushing, but I acted as if I didn’t care. Was he nut or something?


A Few Weeks Later...

Hehe... the “nutty” guy became my boyfriend. Hah? How come? I didn’t know. It just went with the flow. Everyone seemed to be surprised to know it, since he and I seemingly had two different worlds. However, I couldn’t lie to my heart that I did have a little crush on him though I never knew why. A “crush” that gradually grew to something that we may call love...


If Love is Blind...

There is a saying that when we love someone, we shouldn’t love him one hundred percents, since it would be hurt if the person we love doesn’t love us in return. The saying may be right. The relationship didn’t go well. Maybe in every relationship there will always be ups and downs. However, ours seemed very problematic. I didn’t know what’s wrong. It was like that we couldn’t fulfill each other’s expectations. Finally, we --well, it was he actually-- decided to end the relationship. Maybe that was the best for both of us. But, why couldn’t I let the feeling go...? Was it because I loved him too much?
However, few weeks later, when I finally succeeded overcome the sadness, the man came and asked for a second chance. Wishing that this time would be better than the previous one, we restarted our relationship.

Years of Joy and Sorrow

This time we could endure our relationship for quite a long time. We did have much fun through these years. Years passed. We both then graduated. It had been difficult to maintain the relationship after we graduated. Our work life often hindered us to meet regularly. I tried to understand that love is not a matter of being present WITH someone, but it is a matter of being present TO someone, though I really missed him and needed his presence by my side. This matter later on led to conflicts between us. The relationship didn’t seem enjoyable anymore. However, I still wanted to hold on. Somehow, I believed that we could get through this. Somehow, deep inside I believed that we were meant to be together. Unfortunately, he didn’t think the same way as I did. He thought that we would never make it. And...it ended (again...). After he left, I struggled to get my feet back on the ground. It was extremely hard to forget the memories of ours, since we had been together for almost five years at that time.


Time of Solitary


Time will heal the wound. Maybe that’s a right saying for me. After some time, I finally could overcome the sadness and hurt, though sometimes the thought of him still crossed my mind. I just kept saying to myself that the right man for me would come at the right time. Moreover, without him I tried to be more independent and more open to other people. During that time I also made friends with some guys who later on became very close to me. Would one of them be my next boyfriend?


I Turned to You...

I did get close to few guys at that time. But I didn’t feel like for a more serious relationship. I didn’t know why. Just didn’t feel the ’click’ between me and them. And to be honest, deep down inside, I still had the feeling that one day “he” and I would reunite. I had tried once to have a quite “serious” relation with a man. He was very nice, and I almost thought that he might be the one, though he never wanted to make a commitment. However, one day the man from “the past” called me. I was very surprised. Then he asked me to have lunch together. I accepted his invitation just as a friend. I thought it might be fun to meet him and have a chat.

The rendezvous ran smoothly. We had great time together. When we finished our lunch and went out the restaurant, he suddenly held my hand. Gosh, I could hear my heart beating hard. Damn, why has the feeling never been gone? Somehow, I thought that he felt the same way too. But, we didn’t speak anything about it.

Though there seemed to be a possibility for us to reunite, I didn’t want to think about it. I was just afraid that I would be disappointed if I expected too much on this. Unfortunately, my relationship with the other man also didn’t run smoothly. His hesitation to commit himself more seriously in the relationship started to bother me. And I even began to feel annoyed by the things that I didn’t like from him. Things that at first seemed okay, but now I just couldn’t stand them any longer. Finally, I decided to stay away from him. I thought I needed some time for myself. During this period, the man from the past showed up, begged for forgiveness and asked for another chance. The presence of another man by my side somehow made him realize that he still had “that feeling” for me. I really wanted to say ‘yes’ right away. However, I still doubted his seriousness. I just couldn’t stand it if someday the relationship had to end again.

He kept on trying to ensure me that this time he was serious, that he wished I would be the last one. Finally, I decided to take the risk. After all, we will never know if we don’t try right? This time everything ran more smoothly than before though problems sometimes occurred. I think each of us has gone through a kind of transformation process while we were separated. Then, when we met again, we have transformed to be someone better. At least this time, we tried to be more understanding to each other.


From This Moment on...

7 July 2007, at 7.00 a.m., we had our holy matrimonial. From then on, we were husband and wife.

On March 25, 2008, our beloved daughter, Qonita Fadantya Djatnika was born.

It’s been two years now.

Hope our love grow stronger everyday
Hope that we could be better persons each day
Never stop being understanding each other
Never stop caring for one another
May Allah bless our wedding...


HAPPY WEDDING ANNIVERSARY


Sydney, 7 July 2009

Friday, August 21, 2009

Catatan Kecil Jelang Ramadhan 1430 H

Marhaban ya Ramadhan...

Sehari jelang 1 Ramadhan 1430 H. Pertama kali dalam hidup harus menjalani puasa sendiri (ada temen satu rumah sih). Tanpa keluarga tercinta, tanpa suara adzan, suara orang mengaji dari mushola di belakang rumah, suara “band” keliling yang biasa membangunkan orang-orang untuk makan sahur...

Mungkin Ramadhan kali ini akan menjadi Ramadhan yang berbeda buat gw. Ya pasti emang beda karena kali ini harus jauh dari keluarga, berada di negeri yang bukan mayoritas muslim (walaupun komunitas muslimnya juga tidak sedikit). Beda yang gw maksud di sini adalah, baru kali ini, to be honest, gw merasakan kerinduan yang luar biasa untuk beribadah. Lha? Emang selama ini nggak? Well, kalau mau jujur, selama ini sih senang kalo udah masuk bulan Ramadhan. Tapi nggak ada gairah yang luar biasa. Mungkin selama ini Ramadhan cuma jadi semacam tradisi. Sesuatu yang datang setahun sekali, kita jalani, terus berlalu begitu aja. Semua dijalankan, puasa, tarawih, dan sebagainya sebagai suatu hal yang memang “biasa” dilakukan di bulan itu. Diri kita seperti punya “Ramadhan profile setting”. Profile itu kita aktifkan setiap memasuki bulan Ramadhan, tapi kemudian setelah Ramadhan berlalu kita kembali ke profile “general” kita. Kenapa ya sulit sekali menjadikannya sebagai “default profile” kita?

Semoga Ramadhan kali ini memang benar-benar berbeda. Semoga kegairahan yang gw rasakan ini bukan untuk saat ini saja tapi untuk seterusnya. Semoga perjalanan gw di sini bisa jadi a transformation journey...to be a better ME^_^

HAPPY RAMADHAN...

Thursday, November 20, 2008

DUNIA LAIN

Ini bukan nama acara berbau alam gaib yang pernah tayang di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Ini tentang dunia laki-laki. Beberapa waktu lalu gue sempat berbincang dengan seorang teman cowok. Dari percakapan itu gue tau kalo dia kadang chatting atau saling berkirim email dengan seorang cewek yang dikenalnya dari suatu situs pertemanan di internet. Waktu denger ceritanya, gue cuma tanya “Buat apa?”, mengingat dia sudah punya istri dan seorang anak. Jawabnya singkat, “Iseng” katanya sambil nyengir kuda.

Gue gak habis pikir. Mungkin sulit ya buat gue untuk mengerti jalan pikiran laki-laki. Kalo buat gue, itu kegiatan yang buang-buang waktu aja (atau guenya aja males ya?hehehe). Abis kalo bagi gue pribadi, buat hal-hal yang lebih penting aja gue merasa waktu gue kurang, apalagi cuma hal-hal kaya gitu. Gue pernah sih melakukan hal serupa, tapi lama-lama gue bosen aja, apalagi cowok yang jadi teman dunia maya gue itu sepertinya berharap lebih dari gue. Males banget jadinya.

Balik lagi ke temen gue itu. Dia menunjukkan salah satu isi emailnya ke cewek kenalannya itu. Isinya basi banget. Kaya’ cowok lagi pedekate gitu ma cewek yang dia suka. Yang lebih nyebelin dia gak ngaku kalo dia udah nikah (ya iyalah!). Gue bertanya lagi kok bisa-bisanya dia kaya’ gitu, kan udah punya istri. Dia jawab dengan entengnya bahwa dia kan gak selingkuh, bahwa itu cuma iseng aja. Dia gak berniat serius sama cewek itu, lagipula cewek itu tinggal di pulau yang berbeda, dengan jarak yang terbilang cukup jauh, jadi kecil kemungkinan mereka bisa bertemu. Kalo ceweknya menanggapi serius, ya itu salah dia katanya.

Gue cuma geleng-geleng kepala. Laki-laki, tidakkah kau sadari bahwa aktivitas yang kau anggap iseng itu bisa menyakiti seseorang. Mungkin istri teman gue itu tidak tahu, dan kalaupun tahu mungkin tidak peduli karena ia tahu suaminya cuma iseng. Tapi apakah teman gue itu tidak memikirkan perasaan wanita temannya itu. Kalau wanita itu menganggap pertemanan mereka serius dan berharap lebih, apa yang terjadi. Kebohongannya akan menyakiti hati seorang wanita.

Tapi teman gue itu tampak menikmati “dunia lainnya”, yang menurutnya sah saja untuk dilakukan. Setelah percakapan dengannya itu, gue jadi berpikir, apakah suami gue juga melakukan hal yang sama? Apakah dia juga memiliki dunia lain yang gue sama sekali tidak tahu? Dunia di mana gue tidak menjadi bagian di dalamnya?

Mungkin setiap orang memiliki dunia lainnya. Namun terkadang gue berpikir bahwa suami istri harusnya terbuka satu sama lain. Jadi seharusnya kalau suami gue memang memiliki dunia lain itu, kenapa dia nggak cerita? Tapi mungkin itu adalah bagian dari dirinya yang gue tidak perlu tahu. Mungkin dia ingin menikmatinya sendiri. Mungkin ada kalanya dia perlu dunia di mana dia bisa menjadi seseorang yang “beda”. Yah, selama suami gue tercinta tidak berubah, selama dia tetap menyayangi gue dan anak kami, selama teman(-teman)nya di dunia lain tidak ia anggap lebih penting dari istrinya, selama ia tidak menjadikan mereka teman curhat masalah pribadinya, selama dunia lain itu cuma sekedar pengusir rasa bosan dengan dunia kerjanya, mungkin lebih baik gue biarkan saja, mungkin lebih baik gue tidak perlu tahu. Siapa tahu dengan dunia lainnya, dia malah menjadi jauh lebih penuh kasih sayang dan cinta dari biasanya.